Thursday, September 04, 2008

Apa arti sebuah maaf?

Maaf....

Maaf bukanlah kata yang mudah untuk diucapkan, kalaupun kita mengucap maaf mungkin hanya maaf dibibir saja, bukan maaf dari hati.

Maaf hanya sekedar maaf sangatlah mudah diucapkan karena tidak ada tanggung jawab didalamnya, tanggung jawab seperti apa yang ada di dalam sebuah kata maaf? Tanggung jawab untuk mengucapkan dari dalam hati, tanggung jawab untuk mengakui sebuah kesalahan, tanggung jawab untuk menerima konsekuensi dari kesalahan tersebut dan juga tanggung jawab untuk memperbaiki.

Benarkah kalau seseorang sudah memaafkan berarti dia juga sudah melupakan?

Tidak benar, karena bisa memaafkan belum tentu bisa melupakan. Mungkin luka yang ditinggalkan sangat membekas dan sulit untuk disembuhkan, mungkin juga maaf saja tidak cukup tapi diperlukan juga usaha yang keras untuk memperbaiki kesalahan dan menyembuhkan luka yang sudah terlanjur membekas dan terkuak lebar.

Bagaimana caranya? Dengan tidak mengulangi kesalahan yang sama? itu pasti. Dengan mencoba untuk menjadi orang yang lebih baik? itu harus.

Tapi apa yang harus dilakukan apabila satu pihak dengan niat baik sudah meminta maaf dari dalam hati dan mau memperbaiki kesalahannya tapi pihak yang satunya walaupun sudah memaafkan tetapi masih terus mengungkit-ungkit kesalahan tsb setiap saat?

Mendengarkan kesalahannya selalu diungkit-ungkit sangatlah tidak mengenakkan, tapi mungkin itu harga yang harus dibayar olehnya karena sebuah kesalahan. Maaf saja tidak cukup. Harus ada usaha lain-lainnya, mungkin harus memulai dari awal lagi, memulai lembaran baru dan menutup halaman tersebut, tidak ada salahnya untuk menjadi manusia yang berhati besar, tidak ada salahnya untuk memulai persahabatan dan pernikahan dari awal lagi kalau memang itu yang diperlukan untuk memperbaiki kesalahan dan bisa menumbuhkan kepercayaan yang pernah hancur.

Tetapi berhak kah si peminta maaf untuk meminta kepada pihak itu untuk tidak mengungkit-ungkit lagi kesalahan yang pernah dia buat? Dan setiap kali mendengar kesalahannya diungkit-ungkit dia seolah-olah mendapat tamparan di pipi.

Manusia tidaklah luput dari salah dan khilaf, tidak ada manusia yang sempurna, tapi ternyata maaf yang tulus dari hati pun tidak cukup.

Apakah lebih baik memaafkan tapi tidak bisa melupakan atau melupakan tapi tidak bisa memaafkan?

6 comments:

Finally Woken said...

I believe it's a gradual process. Memaafkan belum tentu melupakan; tidak ada keharusan untuk melupakan kesalahan yang dibuat pihak lain, tetapi mengingat kesalahan tersebut dengan rasa marah, apalagi dendam, berarti belum memaafkan. Kalau hanya sekedar mengingat sebagai sebuah point kehidupan, tentu beda.

I tend not to forget people's mistakes, but when I forgive, I forgive. Like the guy who pinched my ass. Why would I forget it? It's too hilarious! But I have certainly forgiven him.

So intinya bukan melupakan, tetapi rasa ikhlas yang muncul dengan rasa memaafkan itu.

Just my two pence :)

parvita said...

Maaf; kata orang2, to forgive is to forget. Kenyataannya sangat sulit untuk melupakan kesalahan yang sudah dilakukan. Orang bisa memaafkan, tetapi sulit untuk melupakan.

Yang penting adalah menerima bahwa kesalahan itu pernah terjadi dan berusaha supaya tidak terjadi lagi.

So...to forgive is to accept with wide heart and move on, with a grain of salt.

Kalau diungkit-ungkit lagi, ya namanya belum dimaafkan. Ya sutralah, trima aja. It takes time to forgive, Ki.

aroengbinang said...

kalau memaafkan dan melupakan itu suatu tingkatan, maka tingat 0 adalah tidak memaafkan dan tidak melupakan.
tingkat 1 melupakan namun tidak memaafkan
tingkat 2 memaafkan namun tidak melupakan
tingkat 3 memaafkan dan melupakan

nah, ada tingkatan yang tidak pernah terpikir buah dari ketinggian pikir, kedalaman hati, dan kedamaian jiwa seorang setingkat sufi, yang tidak melihat kesalahan sebagai kesalahan, dan karenanya tidak ada yang harus dimaafkan dan tidak pula ada yang harus dilupakan...

tere616 said...

Diperlukan kebesaran hati untuk bisa melupakan di saat kita mengatakan "Ya, saya maafkan".

Yg lebih baik, seperti kata Anita maupun Aroengbinang, adalah "ikhlas"

Nonie said...

To forgive but not to forget, to forget but not to forgive.

Menurut ku setiap bentuk permintaan ma'af itu semua tergantung dari cara permintaan ma'af orang tersebut. Kalau orang tersebut mengetahui apa yang sudah dilakukannya salah dan mengakuinya, saya rasa orang tersebut dengan "ikhlas" akan mema'afkannya, seperti apa yang dikatakan Anita. Tapi, kalau pernyataan ma'afnya tidak sesuai dengan apa yang dilakukannya, saya rasa orang tersebut akan setengah mema'afkan atau terus mengingatnya (yang artinya belum terma'afkan).

Seperti apa yang di katakan oleh aroengbinang bahwa setiap manusia pasti ada tingkatannya atau level seseorang dalam hal: menerima, me'afkan, melupakan. Dan itu terjadi dikarenakan "niat ikhlas" dari masing-masing pihak yang bersangkutan.

mia said...

I saw a talk show program on TV (maybe it was Oprah) where a guy said it is not enough just to say "I'm sorry". It should be "I'm sorry" followed by offering what you can do to fix your mistake or the problem you created. Maybe this is why it's easy to forgive but hard to forget, because there is no solution involved. If someone made a mistake and created a problem, then s/he apologised and make amends, problem solved, then it should be easy to forgive AND forget right?